Kenangan pertama saya jatuh cinta pada fotografi terjadi pada suatu pagi berkabut di akhir 2014, saat saya berdiri di tepi danau kecil di pinggiran Bandung dengan kamera saku yang hampir selalu saya bawa. Udara dingin, suara bebek, dan kabut yang bergerak pelan membuat saya merasa seperti sedang memegang rahasia kecil yang harus diabadikan. Saya tidak paham banyak teknis saat itu. Yang saya punya: rasa ingin tahu, sedikit keberanian, dan keinginan untuk membuat foto yang bisa mengingatkan saya pada momen itu selamanya. Dari situ perjalanan belajar saya benar-benar dimulai—dengan kesalahan, kegembiraan kecil, dan praktik berulang yang akhirnya mengubah cara saya melihat cahaya dan komposisi.
Awal: Ketidakpastian dan Kesalahan yang Mengajar
Pada tahun pertama saya sering overexpose. Saya ingat satu sesi pemotretan keluarga pada sore hari di taman Merdeka, di mana saya merasa percaya diri sampai orang tua klien mengangkat alis melihat layar kamera. Foto-fotonya terlalu terang; highlights hilang. Saya frustrasi. Saya bertanya dalam hati, “Kenapa semua jadi putih?” Itu momen jujur yang memaksa saya belajar histogram dan mengapa ISO tinggi bukanlah solusi magis. Saya mulai membaca manual kamera seperti membaca novel—perlahan, dengan catatan di margin. Saya juga menguji aperture untuk mendapatkan latar bokeh lembut, berhenti memilih otomatis, dan berani mencoba mode manual. Tip praktis yang saya pelajari di situ: latih exposure triangle (aperture, shutter speed, ISO) dalam skenario nyata—matahari cerah, mendung, lampu jalan malam—supaya jadi refleks.
Proses: Rutinitas dan Latihan yang Menyentuh Kebiasaan
Rutinitas saya berubah drastis setelah saya menetapkan aturan 100-foto-per-hari selama enam bulan. Setiap pagi saya keluar—entah itu ke pasar tradisional, stasiun, atau sekadar lorong rumah—dan memaksa diri untuk mengerjakan satu aspek teknis. Hari Senin untuk komposisi; Selasa untuk cahaya samping; Rabu untuk portrait; Jumat untuk pemrosesan RAW di Lightroom. Saya mencatat apa yang berhasil dan apa yang gagal. Praktik ini tidak dramatis, tapi efisien. Dalam pengalaman profesional saya, konsistensi mengalahkan inspirasi sesaat. Contoh kongkrit: setelah tiga minggu fokus pada kecepatan rana, saya berhasil memotret anak-anak bermain layang-layang tanpa motion blur, sesuatu yang sebelumnya selalu saya gagal lakukan.
Pembelajaran penting lain adalah mengatur lingkungan kerja fisik. Saya pernah menunda-nunda mengatur studio rumahan sampai suatu hari saya memutuskan mengecat dinding agar warna backdrop netral—itu membantu balance warna pada foto produk. Untuk itu saya bahkan bekerja sama dengan tim pengecatan lokal; pengalaman itu termasuk menggunakan jasa luckypaintingltd untuk finishing yang rapi. Detail kecil seperti warna dinding atau kualitas lampu bisa menghemat waktu pengeditan dan meningkatkan hasil akhir secara drastis.
Tantangan Teknikal dan Cara Saya Mengatasinya
Saya pernah panik saat memotret pernikahan karena baterai cadangan saya juga habis—salah satu momen paling menegangkan. Saya belajar dua aturan keras: selalu punya minimal dua baterai cadangan dan dua kartu memori terpisah. Selain itu, menguasai fokus manual untuk situasi low-light mengubah permainan. Teknik yang saya gunakan sekarang: pre-focus pada titik di mana subjek diperkirakan akan berada, gunakan continuous AF untuk subjek bergerak, dan atur white balance manual saat lampu panggung berubah-ubah. Pengalaman di lapangan mengajarkan saya juga pentingnya backup workflow—sinkronisasi foto ke dua hard drive tiap minggu, dan katalogisasi dengan kata kunci yang konsisten sehingga portofolio mudah dicari saat presentasi klien.
Hasil: Portofolio, Pelajaran, dan Saran Praktis
Setelah tiga tahun konsisten, portofolio saya bukan hanya kumpulan foto indah, tapi cerita visual yang bisa saya jelaskan detailnya—kenapa komposisi dipilih, bagaimana cahaya dimanipulasi, dan keputusan teknis apa yang diambil. Itu membuat presentasi ke klien lebih meyakinkan dan meningkatkan rate saya. Pelajaran terbesar? Belajar fotografi bukan tentang menguasai semua alat sekaligus, tapi tentang menyederhanakan masalah: kuasai cahaya terlebih dulu, lalu komposisi, lalu cerita. Saran praktis terakhir dari pengalaman saya: ambil foto setiap hari, catat satu kesalahan yang Anda buat, dan perbaiki besok. Baca buku teknis, tentu. Tapi praktik di lapangan—dengan kondisi tidak ideal, klien menunggu, atau cuaca berubah mendadak—itulah yang membentuk keahlian sejati.
Jika saya boleh menutup dengan refleksi pribadi: perjalanan ini tidak selalu mulus. Ada hari saya hampir menyerah, merasa teknisnya terlalu rumit. Namun setiap foto yang berhasil memberi dorongan yang tak ternilai. Fotografi mengajarkan kesabaran, observasi, dan cara bercerita tanpa kata. Dan itu—lebih dari peralatan apapun—adalah alasan saya masih bangun pagi untuk mengejar cahaya sampai sekarang.